Selasa, 11 Februari 2014

Outing Sampah, Bawa Berkah

Yang terpikirkan pertama kali dalam benak kita ketika mendengar kata sampah adalah menjijikkan, bau, kotor, atau kumuh.  Apalagi bagi kita yang bermukim dan beraktifitas di kawasan yang relatif bersih, perkotaan, atau komplek perumahan kelas menengah atas. Ya, tepat sekali. Kesanalah tempat tujuan ‘outing class’ kami, kelas 5 Khalid bin Walid hari ini. Sebuah tempat pengolahan sampah plastik yang cukup luas.

Bicara soal sampah, aku punya pengalaman pribadi yang romantis. Semenjak kecil ketika masih SD, ada sebuah tempat pengepulan sampah rongsokan tak jauh dari rumah. Aku sering sekali kesana, sendirian atau bersama teman-teman tetangga. Tujuan kami kesana adalah untuk mencari mainan-mainan bekas yang kondisinya sudah lumayan parah. Aku masih ingat benar, dulu pernah mendapatkan ‘action figure’ Ksatria Baja Hitam yang sudah buntung kedua kaki dan sebelah tangannya. Tubuh tak utuh KBH itu menjadi mainan favoritku sampai kelas 6.

Lalu apa sih romantisnya? Adalah kejadian disuatu hari ketika aku kebetulan tak punya teman untuk pergi ketempat pengepul rongsokan itu. Aku merengek-rengek kepada Ayah. Padahal Ayah saat itu lagi sibuk mengerjakan sebuah terali besi pesanan pelanggan. Ayahku adalah tukang las. Kami punya bengkel kontrakan kecil seukuran 4x5 meter dirumah.

Waktu itu kalau Ayah tak bekerja, maka kami tak jajan dan berbelanja. Namun akhirnya dengan rela hati Ayah menemaniku pergi ke tempat rongsokan itu untuk memburu mainan berupa tutup botol bekas kecap, soft drink, atau limun (ketika itu mainan tutup botol bekas sedang menjadi trend di lingkungan anak-anak kami). Taktik kami adalah: Ayah sibuk mencari besi bekas untuk bahan terali, dan aku asik hunting mainan sendiri. Padahal aku tahu bahwa saat itu Ayah sedang tak begitu butuh membeli besi bekas, semata tujuan utama adalah hanya untuk menemaniku. Ayah rela meninggalkan pekerjaannya asalkan kemauanku terpenuhi. Mungkin pikir Ayah: “Walaupun saya tak bisa membelikan mainan baru, setidaknya anak saya senang telah bisa mencari mainannya sendiri.”

Belakangan aku sadar. Itulah bukti cinta Ayah. Peduli apa aku dulu soal beban hidup Ayah untuk menghidupi dan memberi makan keluarga. Yang aku tahu hanyalah keinginanku yang walaupun tak muluk (tak meminta mainan mahal) harus terwujud! Kalau tidak terpenuhi aku akan merengek sepanjang sore hingga malam. Inilah salah satu pengalaman masa kecilku yang paling romantis. Sejak saat itu pula aku selalu suka dengan tempat-tempat pengepulan sampah dan rongsokan. Tempat yang romantis.


**********skip..skip..skip************

Lanjut ceritaku ke masa sekarang. Makanya ketika pertama kali diusulkan oleh Bu Puji (Wakasek Kurikulum)untuk mensurvey sebuah tempat pengolahan sampah plastik yang berada tak jauh dari sekolah kami, aku langsung suka. Hari Senin kemaren aku menuju ke lokasi dengan ditemani seorang OB sekolah yang biasa dipanggil Uncle Herman. Ternyata beliau pernah bekerja disana selama dua tahun. Alhamdulillah, urusan tetek bengek perijinan dan perkenalan dengan mandor beserta para pekerja disana berjalan lancar.

Hari ini kami bersama anak kelas 5 berkunjung kesana. 

Seperti yang kawan-kawan ketahui, aku mengajar di sebuah SDIT yang notabene latar belakang strata sosial ekonomi murid-muridku adalah kalangan mengengah atas. Dalam benak murid-muridku selama ini, outing class mungkin adalah acara jalan-jalan, naik bus AC berkunjung ke tempat wisata atau semacamnya. Kali ini aku ingin sesuatu yang lain. Sebuah tujuan lain. Inilah “Outing Sampah!”

Lantas apa alasanku menganggap outing class kali ini adalah sesuatu yang perlu? Pertama, anak-anak haruslah dikenalkan dengan kepekaan akan lingkungan sekitar sedari dini. Gedung sekolah yang ‘mewah’ harus diterobos dengan bukaan mata hati yang lebih detail namun luas. Kita hidup bermasyarakat. Berdampingan satu sama lain. Aneka jenis pekerjaan, keragaman tingkat sosial. Di ruang kelas kita belajar menghargai dan hormat kepada sesama, terutama yang lebih tua. Di pelajaran PAI kita sama setuju dan yakin bahwa Allah tidak menilai hambanya dari tingkat ekonomi tertentu melainkan kadar ketaqwaan, iman, dan semangatnya bekerja keras, serta peduli sesama. Kini saatnya kita keluar sebentar dan memaknai bahwa teori-teori pelajaran dan keyakinan itu memang benar adanya.

Aku mencoba mengenalkan sisi sosial humanis kepada anak-anak dengan mengunjungi sebuah tempat pengolahan limbah sampah. Memang awalnya ada beberapa siswa yang mengeluh kecapean, bau, becek dan lain sebagainya. Namun dalam peristiwa kunjungan dan observasi kami kali ini, aku ingin sekali mengatakan kepada anak-anakku secara implisit bahwa sesuatu yang berharga dan tak ternilai bahkan ada di tempat-tempat seperti itu. Kerja keras dan semangat dalam mencari harta halal yang ditunjukkan oleh para ibu dan bapak pekerja di tempat pengolahan sampah itu akan ‘berbicara’ lebih banyak. Lebih dari sekedar petuah kata-kata nasehatku dalam ruang kelas di mata pelajaran pendidikan karakter.

Kedua, adalah soal pemahaman tentang persoalan kepekaan lingkungan. Banjir terjadi karena sampah. Dengan melihat sendiri bahwa sampah bisa diolah dan bisa menghasilkan uang, paling tidak anak-anak akan lebih sadar untuk tetap menjaga kebersihan. Aku harap begitu. Proses pembelajaran anak-anak bersumber dari apa yang mereka lihat dan lakukan, bukan dari yang mereka dengar. Makanya masih sering kita temui kasus anak yang sulit dinasehati, karena mereka hanya mendengar nasihat-nasihat saja, tanpa melakukan dan mengalami sesuatu yang konkrit. Sesuatu yang dapat diamati langsung, dirasa, diraba, dicium, dan melakukan hal tertentu. Anak-anak lebih banyak belajar dari contoh perbuatan yang kita dan sekitar lakukan. Memberi contoh yang baik adalah metode mengajar yang paling ampuh, walaupun perlu proses dan kesabaran kita sebagai guru dan orang dewasa.

Ketiga, anak-anak tetap bisa ‘menyalurkan hobi’ mereka sebagai seorang observer secara alamiah. Apa yang dilakukan hampir seluruh anak kelas 5 adalah mereka begitu asik dan selalu penasaran terhadap aneka sampah plastik yang mereka temukan. Boneka bekas, pistol-pistolan bekas, kaset, compact disc, video, bahkan stick PS bekas, adalah hal menarik bagi mereka. Ketika melihat betapa antusiasnya mereka, aku jadi teringat kembali pengalamanku waktu kecil seperti yang kuceritakan diawal tadi. Bagaimanapun juga, meskipun tempat pengolahan sampah ini tidak sebagus pemandangan mall dan tempat wisata, namun dimata anak-anak yang kaya akan imajinasi, semuanya tampak seperti arena taman bermain.

Terakhir dan yang paling utama adalah tentang rasa kesyukuran akan keberadaan mereka yang mungkin saja kini lebih beruntung dari pada para pekerja di sana. Anak-anakku dengan rumah dan sekolah mereka yang nyaman, para orang tua mereka yang tak perlu berpikir dua kali untuk membelikan seragam, buku, dan mainan. Serta limpahan hidup berkecukupan sebagai karunia dari Tuhan, adalah sebuah alasan untuk mereka, kami, dan kita agar dapat lebih mawas diri, gemar berbagi, bahkan sampai tak kepikiran nanti untuk ikut-ikutan jadi pejabat yang korupsi. Melihat keatas kita tak kan pernah merasa puas, melihat ke bawah kita akan belajar bagaimana meningkatkan solidaritas antar sesama dan ukhuwah.

Ah, saya tiba-tiba teringat perkataan Tan Malaka:

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali!”


Anak-anakku kelas 5 Khalid bin Walid, merdekalah kalian! Kelak jadilah kalian apapun, jadilah ‘kaya’. Namun tetaplah belajar berbagi dan menjadi pribadi yang sederhana seperti Rasul junjungan kita, Gandhi, maupun Hatta.




Fauzan Fadri

Selasa 11 Februari 2014 

Pukul 23:24 WIB

Jumat, 07 Februari 2014

Surat Cinta dari Seorang Guru Biasa


Aku adalah seorang biasa. Aku tidak terkenal, belum pernah muncul di televisi dan koran. Tapi aku juga punya mimpi seperti kalian. Impianku adalah menjadi guru selamanya, dan memiliki sebuah sekolah alam untuk anak-anak. Dengan kekuatan usaha, doa, dan bantuan kawan-kawan, aku yakin impianku itu akan tercapai nantinya. Aku tahu, aku kini sedang berada di jalan setapak menuju kesana. 

Guru adalah sebuah pekerjaan paling remeh: hanya berceramah  di depan kelas, menyuruh murid mengerjakan tugas, memberikan tumpukan pekerjaan rumah, menuliskan angka-angka nilai sesuka hati, hingga menghukum murid yang melanggar dan sulit mengerti. Jadi guru hanya akan untuk dibenci para siswa dan siswi. Jauh dari tujuan sucinya yang untuk menginspirasi. Dan sekolah tak lebih dari sekedar tembok-tembok sempit bagaikan dalam ruang jeruji penjara.

Setidaknya, itulah pemahamanku dulu. Mungkin sama seperti yang kalian anggap sekarang. Guru adalah sipir tukang perintah, menyita waktu bermain dan kebebasan ekspresi peserta didiknya.

Namun akhirnya siapa pula yang menyangka, aku dihukum Tuhan dengan sebuah hukuman yang paling tak terbayang. Tuhan maha adil, maha unik dalam memberi kita sebuah pelajaran. Aku dihukum dengan cara ‘menjadikanku’ seorang guru. Sebuah profesi yang tak pernah sedikitpun kuimpikan ketika aku masih bersekolah dulu, malah kini justru menjadi seolah tujuan hidup dan manifestasi akan sebuah pemaknaan diriku.

Lalu apa sebab pemahamanku ini bisa berputar seratus delapan puluh derajat? Semuanya bermula dari pengalamanku sendiri ketika sempat menjadi relawan trauma healing anak-anak korban gempa di kampungku beberapa tahun lalu. Ketika itu aku adalah seorang mahasiswa sastra yang resah. Banyak membaca, aktif berorganisasi, diskusi kampus membuatku sempat membenci beberapa sikap dan kebijakan pemerintah. Salah satunya dalam sistem pendidikan kita ini. Kawan pasti tahu apa saja sebabnya; ketidakmerataan fasilitas, sekolah mahal, buku mahal, seragam mahal, guru-guru yang tidak kompeten, masalah ujian nasional, dan banyak lagi, sebut saja!

Ketika itu aku hanya bisa mencaci, berkoar-koar tak berujung pangkal tanpa bisa melakukan suatu hal yang berarti. Adalah hal kecil saja yang kami lakukan setelah gempa itu terjadi. Bersama belasan rekan kampus kami belajar berbagi. Belajar turun ke lapangan, menjadi relawan untuk pertama kali. Kami melakukan apa saja yang bisa dikerjakan: mengumpulkan logistik, menghubungi para donatur, rapat dan konsolidasi, mendirikan tenda-tenda darurat, memasak, hingga berdongeng dan bernyanyi.

Sejak itulah, aku mulai belajar mengerti. Kritikan dan protes tak ada gunanya sama sekali. Kata-kata menjadi basi. Melakukan hal kecil dan sederhana jauh lebih bermanfaat. Anak-anak di pengungsian itu, bola mata mereka yang jernih kontras dengan pemandangan reruntuhan rumah dan bangunan sekitar yang miris. Keceriaan dan senyum tulus mereka berhasil mengubah jalan hidup dan pandanganku. Sejak itu aku mulai berdamai dengan diriku sendiri, berjabatan tangan dengan masa lalu, dan mulai menatap masa depan serta memutuskan satu tujuan: menjadi bagian dalam dunia anak dan pendidikan.

Semangat kerelawanan itu masih berbekas dan kugenggam hingga sekarang. Menjadi guru menurutku adalah metamorfosis dari wujud sikap kerelawanan  itu sendiri. Maka peduli apa soal gaji. Aku tak berharap muluk. Biarkan Tuhan yang Maha Baik mendatangkan rahmat dari pintu-pintu lain. Toh kesehatan dan kesyukuran hati adalah setinggi-tingginya nikmat dan rezeki.

Aku kini menjadi guru sekolah dasar di kota Depok, sudah dua tahun merantau. Aku suka sekali menjadi guru karena bisa dekat dengan anak-anak. Entah mengapa, para murid di sekolahku pun punya sorot mata yang sama dengan anak-anak pengungsi korban gempa yang kutemui beberapa tahun lalu. Kupikir mata seluruh anak-anak di dunia memang seperti itu ya. 

Cahaya ketulusan, keceriaan, dan kepolosan selalu terpancar dari mata anak-anak. Dan kebahagiaan itu menular padaku. Kawan tentu sependapat denganku, bahwa semakin kita menjadi orang dewasa maka hidup pun semakin penuh dengan tantangan dan tuntutan. Hidup menjadi semakin palsu dan tidak menyenangkan. Tak sedikit orang dewasa yang frustasi dengan masalah dirinya. Mereka lupa bahwa dulu mereka pernah menjadi anak-anak yang selalu berbahagia, positif, pantang menyerah, selalu penasaran dan gemar belajar hal baru serta jujur. Dengan berbaur bersama anak-anakku di sekolah, aku mempertahankan keceriaan masa kecil yang pernah kualami dulu. Inilah hal utama yang kudapatkan secara gratis dengan menjadi seorang guru: Rasa Bahagia.

Tentunya aku tak ingin menjadi tipikal seorang guru seperti yang kusebut di awal ceritaku tadi. Aku ingin menjadi guru biasa yang menginspirasi. Makanya aku perlu banyak belajar lagi. Latar belakang pendidikanku yang bukan keguruan justru menjadi penyemangatku untuk mempelajari dunia yang sedang kugeluti ini. Banyak sekali percobaan trial-error yang kulakukan ketika belajar dan mengajar siswa di sekolahku. Namun satu yang pasti, aku harus selalu mengajar mereka dalam keadaan ceria, dengan semangat rasa senang hati.

Dari anak-anak itu justru akulah yang belajar. Entah siapa yang guru, entah siapa yang menjadi murid. Aku tidak menganggap muridku sebagai cangkir kosong yang harus diisikan ilmu dariku sebagai sebuah teko. Muridku bukanlah cangkir kosong itu! Mereka adalah sahabatku, partnerku dalam proses belajar kami sendiri-sendiri.

Seperti yang kubilang tadi. Aku belajar kebahagiaan, memaknai hal, berbagi, menjadi berarti, dan mensyukuri hidup dari anak-anak muridku di sekolah. Sederhana sekali kan kawan? Ya, menjadi seorang guru biasa dan sederhana ternyata amatlah menyenangkan. Oiya, kini aku tak lagi gemar mencaci.


Fauzan Fadri
Depok, 13:17 WIB, 08-02-2014

Sabtu, 18 Januari 2014

Surat Protes Anak-anakku : Sebuah Otokritik dan Kebanggaan Atas Mereka

Bagaikan petir disiang bolong! Tak ada angin, tak ada hujan. Tiba-tiba surat itu datang dari seorang muridku bernama Nida. Aku kira itu hanyalah surat biasa seperti yang dulu-dulu pernah kuterima dari beberapa anak yang isinya kesan mereka terhadapku dan pelajaran yang kuampu, ucapan terimakasih, selamat, atau semacamnya.

Nida adalah salah satu anak yang paling suka bertanya kepadaku tentang apa saja, termasuk pengetahuan-pengetahuan diluar materi pelajaran. Ia juga sangat senang ketika mendengarkan aku berkisah di depan kelas, itu tampak jelas kulihat dari sinar mata dan raut wajahnya. Nida yang haus ilmu dan kritis ini kebetulan juga adalah anak yang menduduki posisi akademis tertinggi di kelas 5. Kelas Khalid bin Walid.

Tapi kawan, tidak seperti cerita-ceritaku sebelumnya yang hanya mengisahkan satu atau dua anak. Kali ini Nida bukan tokoh utamanya. Melainkan seluruh anak kelas 5, seisi kelas!

Ceritanya begini:

Tadi siang setelah makan siang bersama. Nida dan Esti menghampiriku dan mereka berkata:
“Ustad, nanti ikut mendampingi pelajaran SBK nya Miss Ika di kelas kami kan?”
“Wah, ustad harus menemani kelas 4 di pelajaran PKn nanti, memangnya ada apa?” Ujarku.
“Eh, nggak tad. Gak ada apa-apa kok. Tapi ustad mau ya ikutan SBK bareng kita.” Kata Nida.
“Hmm..baiklah. Nanti kalian mau bikin mading ya? Akan ustad temani deh.” Jawabku kemudian.

Hari kamis ini aku memang tak ada jadwal mengajar di kelas mereka. Aku hanya diamanahkan untuk satu mata pelajaran IPS/Sejarah saja setiap hari selasa. Lainnya adalah materi Pembinaan Karakter dan jam Perpustakaan yang hanya sekali seminggu. Itupun Cuma berdurasi masing-masing 30 menit. Pada intinya aku adalah seorang guru bahasa Inggris. Maka tak heran bahwa aku juga mengajar di 3A, 3B, 4A, 4B pada hari-hari lainnya.

Bagiku pembagian jadwal ini sama sekali tak jadi soal. Toh setiap aku mengisi mata pelajaran di kelas 5, aku selalu berusaha sebisanya untuk menyampaikan materi dengan santai dan diselingi humor. Dengan games atau permainan. Tak jarang juga aku bercerita tentang apa saja. Hal ini aku tujuankan agar mereka tak merasa sedang ‘diajari’. Ya, kawan pasti tahu benar bahwa anak-anak sekarang mana mau belajarnya monoton. Selalu duduk rapi melipat tangan, mendengarkan guru dalam diam, mencatat dan merangkum buku seperti kita dulu bersekolah, kini sudah ketinggalan jaman. Sudah out of date! Maka jadilah aku memakai cara diluar mainstream dalam menyampaikan pelajaran kepada anak-anak.

Setelah kupikir-pikir lagi, akhirnya aku memutuskan untuk mendampingi mereka pada jam terakhir. Ketika aku sedang asik menggambar dan menggunting bersama anak-anak pada jam pelajaran SBK itulah datang Nida dan teman-temannya menyerahkan sepucuk kertas yang dilipat menjadi kecil sekali seukuran kotak korek api. Katanya itu surat untukku. Harus kubaca nanti setelah pulang sekolah. Aku bertanya, “Surat apa ini? Kejutan buat ustad ya?” Anak-anak itu hanya tersenyum penuh arti. Aku yang sedang asik berkutat dengan persiapan mading kelas, memasukkan kertas itu ke dalam kantonmg celana. Tak bertanya lagi.

Namun aku sangat penasaran. Ini surat pertama yang bersifat rahasia diberikan oleh anak-anak terhadapku. Di depan kertas kecil itu tertulis:

TO : Ustad Fauzan
From : Anak Kelas 5 Khalid Bin Walid
(Secret Project)

Aku sempat tersenyum membaca dua kata terakhir : “Secret Project”. Memang aku sering menggunakan istilah ‘project’. Ini karena kami dikelas 5 sedang dalam proses beberapa proyek seperti menerbitkan buku antologi karangan cerita masing-masing anak, perpustakaan kelas dengan motto ‘take one book, leave one book’ , jualan jus bikinan kami sendiri di kantin sekolah, hingga latihan lagu rap untuk didedikasikan kepada Ayah Bunda. Mereka mengambil istilah ‘project’ dari sana. Yang bikin aku heran ada kata ‘secret’ nya segala. Berarti ini memang bersifat rahasia dan penting.

Maka ketika keluar sebentar untuk menyiapkan games intrakurikuler bahasa Inggris untuk mereka. Aku punya hanya sedikit waktu untuk mengintip surat itu. Intinya mereka protes mengapa aku jarang berada dikelas mereka. Nah, tahulah aku akhirnya alasan kenapa raut muka anak-anak terlihat cemberut kepadaku ketika aku mengajak mereka ke lapangan untuk bermain games bersama. Ekspresi wajah Nida lah yang paling muram kulihat. Dia yang biasanya antusias, kini berubah 180 derajat. Ajakanku ditolaknya. Nida ngambek total!

Melihat gejala yang kurang asik itu, akupun mengajak semua anak kembali untuk ke kelas. Games bahasa Inggris yang biasanya seru itu kuundur sementara. Setelah anak-anak semua berada dikelas. Maka seperti biasanya, aku memulai awalan kata dengan teriakan semangat. Anak-anak diam. Kesempatan emas yang hanya berselang beberapa detik itu langsung aku manfaatkan untuk menceritakan kisah tentang kawan-kawanku yang kukagumi. Aku bercerita tentang kawan-kawanku yang kini berada di Jepang, Malaysia, dan Amerika. Kuceritakan kawan-kawanku yang pernah keliling dunia dan Indonesia untuk belajar, kawan-kawanku yang bergiat di LSM dan NGO untuk membantu anak-anak terlantar dalam bidang ekonomi dan pendidikan.  Aku katakan kepada anak-anakku, bahwa para kawanku itu titip salam untuk mereka.

Mendengar itu, semua anakku heran. Kok bisa kawan-kawanku mengenal mereka yang hanya murid sebuah sekolah dasar. Maka kubongkarlah semuanya saat itu. Kuceritakan bahwa setiap malamnya aku diskusi dan chatting dengan kawan-kawanku itu tentang pengalaman mereka di sekolah. Kawan-kawanku itu kagum kepada semangat, antusiasme, kreatifitas, dan kecerian mereka di sekolah. Kukatakan juga kepada anak-anak kelas 5 bahwasanya mereka patut berbangga karena mereka kini punya fans di seluruh Indonesia bahkan dunia. Semua itu bisa terjadi lewat mengakses internet yang kulakoni saban malam.

Intinya, kutegaskan pada anak-anakku, walaupun secara fisik aku jarang berada dikelas mereka karena aku juga mengajar di banyak kelas lain, pikiran dan hatiku selalu terpatri kepada mereka. Aku bilang aku kagum dan bangga kepada mereka yang walaupun masih kanak-kanak, tapi dapat menginspirasi kami sebagai orang yang telah dianggap dewasa. Kami (kawan-kawanku dan aku) dulu tak selayak dan senikmat mereka belajar disekolah dasar yang penuh dengan segudang keterbatasan.

Kutambahkan pesan agar anak-anakku dikelas 5 untuk selalu menjaga kekompakan, kesenangan belajar dan kepedulian agar mereka (tentu saja) bisa lebih hebat dari kawan-kawanku itu nanti. Mendengar ini semua, anak-anak kembali bersemangat dan antusias seperti biasa. Mereka tampaknya sudah melupakan kejadian kasus surat protes tadi. 

Akhirnya ketika kuajak mereka semua ke lapangan, materi games kami berlangsung sangat seru sampai-sampai bapak kepala sekolah kami keluar kantornya dan ikutan duduk dipinggir lapangan. Ikutan tertawa-tawa sambil sesekali turut menyemangati dan menyoraki games pertandingan yang sedang berlangsung.

*****

Ketika di angkot saat pulang sekolah tadi. Aku kembali membaca penuh semua isi dari surat protes anak-anakku. Ada perasaan bersalah sekaligus haru. Memang kuakui dalam dua minggu ini aku tampak seperti lebih perhatian kepada kelas 3 dan 4. Aku membuatkan yel-yel khusus untuk kelas 4A dan 4B. Dan anak-anak kelas 4 senang sekali dengan itu. Hal ini pastinya diketahui juga oleh kelas 5. 

Disamping itu aku juga sedang menguras otak dan memfokuskan perhatian kepada anak-anak kelas 3 untuk kuanalisis gaya belajar mereka dan metode apa yang paling tepat kulakukan di kelas untuk menarik perhatian mereka. Selama berada di sekolah, aku memang sedang berupaya memetakan kelas 3. Maklum, tahun kemaren aku belum pernah mengajar dan mengenal mereka lebih intens. Berbeda dengan anak-anak kelas 5 sekarang yang sudah kukenal cukup dekat karena telah mengajar bahasa Inggris di kelas mereka tahun lalu.

Dalam hati aku berujar: “Tapi ini tak boleh dijadikan alasanku untuk tidak lebih memperhatikan kelas 5. Semua anak di sekolah haus akan perhatian. Mereka haus akan cinta. Seperti layaknya kita orang dewasa.”

*****

Begitu tiba dirumah, aku yang jarang sekali menceritakan pengalaman di sekolah kepada Ibu, langsung memperlihatkan surat itu pada beliau.  Setelah membacanya Ibuku pun berkata : “Wah, anak-anak Fauzan di sekolah hebat sekali ya. Mereka sungguh cerdas!”

Bertambah lagi satu fans anak-anakku di sekolah, tak lain adalah Ibuku sendiri.

*****


Fauzan Fadri
12 September 2013
Pukul 20:33 WIB




Lampiran Isi Surat:

Assalaamua’alaikum Wr. Wb.

Ustad Fauzan, maaf kalau Nida, Esti, Rico, Zidan, Pasya, dan anak kelas 5 ngasih tahu ustad berlebihan. Kami semua iri dengan kedekatan Ustad dengan anak kelas 4. Kami semua gak melarang Ustad dekat dengan anak kelas 4. Tapi kami iri karena Ustad Fauzan waktunya lebih banyak sama anak kelas 4. Sedangkan Ustad Fauzan lebih sedikit waktunya sama anak kelas 5. Padahal Ustad sendiri (adalah) pendamping wali kelas 5.

“KAMI INGIN USTD. FAUZAN LEBIH BANYAK WAKTUNYA DAN LEBIH DEKAT DGN ANAK KELAS 5, termasuk kami.”

Wassalamualaikum Wr. Wb.


Gaya Belajar Unik Kelas Khalid

Halo apa kabar kawan-kawan semua? Semoga senantiasa semangat dan selalu dilimpahi rahmat dan keceriaan. Kali ini saya akan membeberkan sedikit kegiatan belajar yang dilakukan kelas 5 Khalid Bin Walid dalam satu bulan belakangan ini. Mungkin saja kawan-kawan sudah lebih dulu tahu (bagi yang non guru/pendidik) dan bahkan lebih ahli dalam mempraktekkan sistem, gaya, dan metode mengajar di sekolah (bagi kawan guru atau praktisi pendidikan). 

Kami masih belajar tentunya. Masih belum cakap dan ahli. Namun ini ada beberapa program kegiatan sekolah dan beberapa trik serta metode mengajar yang saya modifikasi di kelas Khalid dan sekolah kami. Seperti kita sepakati bersama, proses belajar di sekolah tak hanya ketika murid berada di dalam kelas, duduk rapi, mencatat dan mendengarkan guru. Semoga tulisan berikut ini bermanfaat. Ditunggu saran, kritik, dan sharingnya demi kemajuan belajar kita bersama.


Outing Class di Kota Tua

Di sekolah kami ada program outing class.  Sesuai namanya, anak-anak memang diberikan kesempatan bermain dan jalan-jalan keluar. Setiap kelas bebas menentukan kemana tujuan. Apakah itu ke lembaga pemerintahan, kebun raya, pusat wisata budaya, kuliner, kantor-kantor, museum, hingga ke panti asuhan. Beberapa contoh tujuan outing class ini memang musti berkaitan minimal dengan salah satu subyek mata pelajaran. Bisa IPS, Agama, PKn, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan sebagainya. Program ini dilakukan sekali setiap semester.

Semester ini, kami bersama anak-anak kelas 5 Khalid bin Walid pergi ke museum Sejarah dan Museum Wayang di Kota Tua. Kebetulan, selain mengajar bahasa Inggris di kelas 3 dan 4, aku juga mengampu mata pelajaran IPS di kelas 5. Sejak pertama kali diusulkan miss Astri, aku langsung setuju. Kota Tua dan beberapa museum yang ada di sana adalah ‘tempat wisata’ paling favorit bagiku selain toko buku. Disana anak-anak akan mengenal lebih dalam tentang sejarah budaya bangsa, tentu saja ini sangat koheren dengan materi IPS.

Dan beruntungnya kami, kegiatan ini juga berkaitan dengan pelajaran bahasa Indonesia dan Inggris. Anak-anak juga diminta mewawancarai petugas museum, pengunjung, penjual makanan dan souvenir, pekerja seni, dan turis asing yang mereka temui di sekitar museum. Tugas wawancara turis asing adalah titipan Miss Nitha yang mengajar Bahasa Inggris di kelas 5.

Adalah Naufal, anak paling aktif di kelas. Hobinya segala macam olah raga. Aktif sekali bergerak. Kadang di kelas ia memang sulit fokus, kecuali proses belajar itu kita modifikasi dengan banyak gerakan. Anak inilah yang mengagetkan saya. Dialah yang pertama kali menghampiri seorang bule asal Jerman bernama Charlie. Dengan modal bahasa Inggris yang patah-patah (Paling lancar ia bilang: ‘Helo, What’s your name?’ saja, hehe), ia membuntuti bule itu. Sehingga si bule berhenti dan langsung saja dikerumuni oleh semua temannya yang lain. Alhasil, si bule Jerman ini menjadi artis sehari. Ditanyakan macam-macam oleh anak-anak Khalid.

Keesokannya, masih dibayangi oleh kekaguman atas keberanian Naufal dan teman-temannya. Saya mengajak mereka membuat mading kecil yang berjudul : “The First Time When I Talk to Stranger”.

Kami menempelkan foto Charlie dan anak-anak. Dan meminta mereka membuat testimoni di sebuah kertas kecil lalu ditempel disekitar foto mereka dan Charlie. Ada anak yang menulis: “Sungguh menyenangkan, mendebarkan, grogi harus ngapain, pengalaman luar biasa, dan lain sebagainya.” Bahkan Arul menulis disana: “Tanganku gemetaran ketika salaman sama Charlie. Itu bule laki-laki kok tangannya halus sekali ya, pasti dia jarang nyuci baju dan piring di rumah, hahaha.”

Dari kegiatan ini, saya melihat anak-anak Khalid senang sekali tiada terperi. Ini adalah pengalaman pertama kali seumur hidup mereka berinteraksi dengan orang asing. Keberanian mental, kepercayaan diri, semangat belajar bahasa, pemahaman mereka tentang manusia dan dunia yang luas, serta semangat keingintahuan mereka akan bermula dari sini.


SRA Project

Project terbaru kami di kelas 5 adalah 'Silent Reader Action'. Maksudnya bukanlah menjadi pembaca misterius di forum-forum internet atau media sosial lainnya. Melainkan melakukan kegiatan membaca yang kami lakukan selama 20 menit setiap menjelang sholat Jum'at.

Anak-anak bebas memilih buku bacaan apa saja dari perpustakaan kelas kami (selain perpustakaan sekolah, kami juga punya puluhan koleksi buku dari kami sendiri yang di simpan di lemari, ini bagian dari project kelas 5 sebelumnya yakni : 'Take one book, leave one book').

Saya bebaskan anak-anak membaca apapun: buku pelajaran, majalah anak, kisah sahabat Rasul, komik Disney, buku pengetahuan dan ensiklopedia, bahkan ada yang membaca brosur museum-museum dari Kota Tua.

Ternyata anak-anak yang biasanya aktif bergerak, dapat berdiam diri ketika membaca selama itu. Mereka juga saya bebaskan mengambil posisi membaca dimana saja. Ada yang duduk di kursi, selonjoran, bahkan sambil santai tiduran di karpet. Setelahnya, saya tanyakan satu per satu tentang apa yang mereka baca. Dan ajaibnya mereka bisa menceritakan informasi apa yang mereka dapatkan dari membaca. Sungguh luar biasa.

Saya harapkan anak-anak Khalid mulai merasa senang dalam membaca. Ini bisa dimulai dari membaca apa saja yang mereka suka. Saya yakin, dalam setiap bacaan apapun terkandung ilmu dan pengetahuan yang berbeda. Tentu saja bukan dari bacaan-bacaan aneh dan nyeleneh. Hal ini juga saya alami sendiri ketika menjadi guru. Setiap malam biasanya saya membaca buku atau berselancar di internet, membuka situs, blog, dan media sosial lainnya. Membaca apa saja yang berkaitan tentang pendidikan, gaya mengajar, dan info-info baru tentang isu serta disiplin ilmu apa saja yang biasanya ‘tanpa saya sengaja’ selalu terkait dengan materi pelajaran yang sedang saya berikan kepada anak-anak di kelas.

Dengan mengasah gaya bercerita ditambah pengetahuan baru yang biasanya tidak ada di buku-buku pegangan siswa, saya harap anak-anak Khalid khususnya mendapatkan ‘nutrisi ilmu’ baru yang menarik, sehingga mereka semakin penasaran akan ilmu pengetahuan, makin semangat belajar dan kritis. Sungguh bila anak-anak ini tahu betapa nikmatnya membaca, anak-anak Khalid kelak akan jauh lebih maju dalam banyak hal, tak peduli akan memilih profesi dan hobi apa saja yang akan mereka geluti nanti.


Menjadi Guru Cilik

Ini adalah program mingguan intrakurikuler bahasa Inggris. Setiap hari Kamis selama satu jam sebelum pulang, anak-anak Khalid dibagi menjadi 6 kelompok kecil dan diminta mengajar adik-adik mereka di kelas 1 dan 2 (masing-masing terdiri dari 3 kelas). Program ini bermula sejak sebulan yang lalu. Cerita lengkapnya ada dalam note saya terdahulu yang berjudul: “Puluhan Guru Cilik di Sekolah Kami : How Learn to Learn Method”

Kekurangan guru bahasa Inggris di sekolah kami bukan menjadi suatu hambatan. Atas inspirasi yang saya dapatkan dari anak-anak Khalid sendiri, akhirnya saya melakukan uji coba project ini. Alhamdulillah sejauh ini berhasil. Anak-anak Khalid senang sekali ketika mengajari adik-adiknya Bahasa Inggris. Ada yang mengajar sambil bernyanyi, berkeliling lingkungan sekolah, sambil bermain ular naga dan permainan tradisional lainnya, sambil menggambar, tebak-tebakan, dan lainnya.

Siang kemaren, ada beberapa anak Khalid yang mengeluh kepada saya tentang bagaimana cara mengondisikan adik-adik mereka agar tetap tenang selama belajar bersama mereka. Saya berikan gambaran kepada anak-anak Khalid tentang cara dan trik mengajar ketika di kelas. Saya mengatakan: “Khusus mengajar kelas 1 dan 2, kalian haruslah lucu dan kreatif. Pastinya adik-adik akan senang kalau gaya mengajar kalian menarik. Kalian boleh ajak mereka seru-seruan sambil belajar, tebak-tebakan, cerita lucu, kasih games atau apa saja. Dan yang tak kalah penting adalah kesabaran. Kalian harus sabar ya.”

Selain anak-anak Khalid sendiri, para guru kelas 1 dan 2 serta adik-adik senang sekali ketika diajarkan oleh kakak kelas mereka sendiri. Mereka menyambut dengan sangat antusias. Anak-anak Khalid pun seolah menjadi selebriti sekolah. Mereka punya banyak fans dari kelas 1 dan 2. Ketika jam istirahat, mereka sering dibuntuti dan diajak bercanda oleh adik-adiknya. Sungguh ini sebuah pemandangan yang membuat saya bahagia.

Namun lebih pada itu, saya punya harapan lain dari project ini. Dengan mengajar, anak-anak Khalid akan lebih tahu bagaimana esensi dari proses belajar itu sendiri. Selain melatih kemampuan bahasa Inggris, daya kreatifitas, keberanian mental, kepercaan diri, dan kemampuan mencari solusi atas suatu masalah, mereka juga belajar bersosialisasi.

Proses belajar terbaik adalah ketika kita mengajar. Itulah satu kalimat yang senantiasa terpatri dalam diri saya selama ini. Dengan mengajar, anak-anak Khalid akan belajar berkali-kali lipat. Tidak hanya belajar satu mata pelajaran tertentu, tetapi belajar banyak sekali hal diluar itu.

*****

Demikianlah. Masih ada beberapa hal yang akan saya sampaikan seperti: project sahabat pena lintas pulau, project buku antologi karya mengarang anak kelas 5, dan lain sebagainya. Lain waktu akan saya ceritakan kepada kawan-kawan semua. Terimakasih. Salam sahabat kanak!  


Fauzan Fadri
Jum'at 08 November 2013


Anak-anak Khalid sedang bersiap mengajar adik-adik kelas 1 dan 2. Tema : Animals
Anak-anak Khalid sedang bersiap mengajar adik-adik kelas 1 dan 2. Tema : Animals
Mewawancarai Charlie di Kota Tua
Mewawancarai Charlie di Kota Tua

Sebuah Kebetulan yang Tak Pernah Betul-betul Ada

Malam ini saya dapat sms dari Ani. Ia baru saja pulang berliburan keluarga di luar kota. Ketika kutanyakan ini pertemuan untuk apa, Ani menjawab: “Ya, sekedar ngobrol-ngobrol biasa aja.” Ajakannya langsung saya terima. Padahal setiap hari minggu saya kuliah full day, dan ini berdampak kepada sedikit menurunnya stamina, membuat mata mengantuk berat sepulangnya, sampai nafsu makan yang naik drastis. Memang benar rasanya, ketika kita belajar dan memaksa otak berpikir ekstra, ini akan menghabiskan energi melebihi bekerja berat dengan otot. Kita butuh lebih banyak asupan nutrisi dan istirahat untuk memulihkan jiwa raga. Maka biasanya saya akan menghabiskan minggu malam dengan istirahat di rumah. Kembali mengumpulkan tenaga untuk esok Senin kembali ke sekolah.

Namun malam ini lain cerita. Istilah ‘ngobrol-ngobrol biasa’ yang Ani sebutkan tadi itu lebih daripada maksud harfiahnya. Selalu ada saja bahan pembicaraan baru dan menarik, khususnya tentang pendidikan anak, bertukar pengalaman kami dalam mengajar, atau hal-hal absurd lainnya yang justru menurut kami seru untuk diperbincangkan. Tak jarang pula terjadi peristiwa menarik dan unik ketika kami mengobrol. Nah, peristiwa ajaib inilah yang ingin saya ceritakan kali ini kepada kawan-kawan.

Ini kisah tentang ‘the law of attraction’. Hukum tarik-menarik. Ketika kita fokus pada satu hal, menginginkan satu hal, maka akan selalu ada saja jalan dan kejadian yang mengarahkan kita kepada tujuan dan keinginan kita itu. Tak peduli sebetapa rumitnya keinginan kita itu. Yang kita butuhkan hanyalah percaya. Rasa yakin dalam hati. Kalau boleh meminjam kutipannya Paulo Coelho dalam bukunya ‘The Alchemist’ yang bunyinya: “Jika kamu menginginkan sesuatu, maka alam semesta akan berkonspirasi untuk menolongmu.” Tentu saja, pastinya ini juga andil dari campur tangan Allah. Tak ada yang kebetulan di dunia ini. Semuanya sudah diatur oleh Allah.

Begitulah. Kami bertemu di depan sebuah minimarket di pinggiran jalan Margonda. Di sana ada beberapa bangku duduk. Awalnya kami akan makan bakso. Sebelumnya Ani kubelikan segelas es cappucino cincau, dengan harapan Ani akan ‘membalas jasa’ mentraktir saya bakso. Hehe.. Namun malang, tak satupun warung bakso yang buka. Saya cek ke Gang Pinang, warung baksonya malah udah mau tutup. Alhasil kami ngobrol saja di depan minimarket itu sembari menikmati malam.

Tak beberapa lama berselang ketika Ani bercerita tentang keseruannya pergi liburan, datanglah tiga orang mahasiswi berkerudung menghampiri kami. Belakangan kami berkenalan, nama mereka adalah Ami, Anggi dan Rani. Apa yang dilakukan mereka bertiga terhadap kami?Ami dengan ramah menyodori kami sebuah proposal. “Wah, ada mahasiswi mau minta sumbangan kegiatan nih”, pikir saya dalam hati. Ternyata mereka adalah relawan dari sebuah komunitas yang bernama CCE Community. Sebuah komunitas yang terdiri dari mahasiswa se-Jabodetabek. Komunitas ini bergerak dalam bidang pemberdayaan anak-anak jalanan, membantu membuatkan akte kelahiran anak-anak, mengadakan taman bacaan gratis, dan melakukan pembinaan keterampilan khusus untuk mereka.

Gayung pun bersambut. Baru seminggu lalu ketika saya, Ani, dan Ija mengantarkan teman kami Yudi ke stasiun Depok Baru. Stasiun itu dekat dengan sekolah Master. Itu lho kawan, sekolah khusus anak jalanan yang pernah muncul di Kick Andy beberapa tahun lalu. Kenapa dinamakan Master, karena sekolah yang memang diperuntukkan bagi anak jalanan itu memang berada di dekat masjid di terminal. Master adalah singkatan dari Masjid Terminal. Nah, ketika saya melihat sekolah itu, saya langsung bilang ke Ani: “Seandainya ada satu orang saja yang saya kenal di Master, maka saya akan senang sekali bila bisa ikutan mengajar dan jadi relawan di sana.” Dan Ani langsung sepakat dengan saya. Memang hobi dan minat kami hampir selalu sama dan seide. Ketika itu kami juga menyatakan keinginan yang sama, ingin mengisi waktu libur kami yang walau hanya sekali seminggu untuk berkegiatan menjadi relawan sebuah LSM atau sejenisnya.

Dan inilah yang terjadi malam ini terhadap kami. Ketiga mahasiswi tadi juga ternyata adalah relawan yang ikut aktif di sekolah Master. Alhasil mengalirlah obrolan kami berlima tentang pengalaman kami masing-masing. Ani yang juga dulunya aktif di GARASI juga tak kalah antusias. Banyak cerita yang kami sharing. Tujuan awalnya ketiga mahasiswi untuk meminta sumbangan berakhir dengan obrolan hangat seperti orang-orang yang sudah bersahabat dekat. Begitu akrab.

Kami juga berbagi informasi tentang jaringan pertemanan yang kami punyai. Ketika saya tanyakan apakah CCE Community sudah punya taman baca, mereka menjawab belum. Maka saya memberikan rekomendasi sebuah LSM yang bergerak dalam bidang pengadaan buku taman bacaan yang sudah fasih malang melintang berkegiatan di seluruh Indonesia. Saya minta mereka membuat proposal pengadaan buku, dan saya berikan nomor kontak yang bisa dihubungi. Ada juga kenalan kami seorang dokter yang sudah wanti-wanti ingin ikut bergabung dengan kegiatan seperti ini. Siapa tahu ibu dokter itu nanti juga bisa bantu pemeriksaan kesehatan gratis untuk anak-anak jalanan yang dibina oleh CCE Community. Bahkan Rani juga pernah bilang, ada seorang anak asuh mereka yang meninggal dunia beberapa waktu lalu karena terlambat didiagnosa. Anak itu terkena TBC akut. Tak sempat tertolong lagi. Sungguh miris sekali hati kami mendengarnya.

Selanjutnya saya meminta nomor kontak dan alamat akun medsos milik Ami, Anggi, dan Rani. Tujuannya adalah agar kami masih bisa berkomunikasi nanti. Besar sekali harapan saya dan Ani untuk dapat bergabung dan bantu-bantu di komunitas mereka.  Inilah yang menjadi impian belum terwujud saya dan Ani untuk bisa menjadi relawan kembali. Dan dari peristiwa ajaib ini, Allah sudah menunjukkan jalan awalnya. Saya yakin itu.

Ketika hendak pulang. Saya mengucapkan terimakasih kepada Ani. Ia malah bertanya balik: “Terimakasih untuk apa? Harus ada alasannya dong!” Saya hanya tersenyum lebar, selebar-lebarnya. “Ya, terimakasih. Terimakasih saja. Tak ada alasannya”, ujar saya menegaskan.

Begitu Ani pulang naik angkot, dan saya berjalan kaki menuju rumah, benak dan hati saya dipenuhi dengan kebahagiaan tak terperi. Saya sangat mensyukuri pengalaman unik dan ajaib yang kami alami malam ini. Mungkin kalau saja Ani tak mengajak saya untuk sekedar bertemu dan ‘mengobrol biasa’, maka tak akan terjadi peristiwa ini. Allah memberikan sebuah cara melalui perantara orang-orang hebat yang saya temui malam ini.

Tak ada hal-hal yang kebetulan. Semuanya terjadi dengan alasan. Itulah yang dinamakan ‘the law of attraction’. Benar begitu kan kawan..



NB:
Salah seorang dari ketiga relawan mahasiswi yang bernama Rani, sempat mengaku awalnya tertarik dengan baju yang saya pakai. Baju kaos hijau ini adalah milik teman saya Friska yang menjadi relawan panitia di kegiatan kerja bakti Festival Indonesia Mengajar yang kami ikuti beberapa minggu lalu. Dikirimkan Friska dari Bandung beberapa hari yang lalu. Baju itulah yang mungkin mengundang mereka untuk menghampiri saya dan Ani. Apakah ini juga bukti dari hukum tarik-menarik? Kawan tahu sendiri apa jawabnya.


Fauzan Fadri

20 Oktober 2013

Pukul 21:32 WIB


Mba Ami, Mba Rani, Saya, dan Mba Anggi
Mba Ami, Mba Rani, Saya, dan Mba Anggi

Ani, kedua dari kanan.
Ani, kedua dari kanan.

Festival Gerakan Indonesia Mengajar : Catatan Kecil Tentang Sebenarnya Cinta

Adalah sebuah gerakan bernama Indonesia Mengajar. Kalau kawan belum tahu silahkan searching google, karena aku tidak membahas gerakan hebat ini secara rinci. Namun yang jelas, gerakan ini adalah salah satu inspirasi dan motivasi terbesarku hingga saat ini. Tulisanku kali ini akan menceritakan pengalamanku dan beberapa sahabat dalam kerja bakti Festival Gerakan Indonesia Mengajar, hari Minggu kemaren, tanggal 6 Oktober 2013.

Kembali sejenak ke masa setahun belakang, aku sebenarnya punya ‘dendam’ pribadi kepada program Indonesia Mengajar (IM) ini. Berawal dari keinginan terdalamku tahun lalu yang tak lolos seleksi menjadi pengajar muda. Aku sempat terpuruk. Harapanku menjadi guru di pelosok pulau terasa tak akan pernah tercapai lagi. Aku cinta anak-anak, aku cinta alam Indonesia. Maka bila seseorang tak mendapat apa yang dicintainya, apa yang akan terjadi? Kegalauan. Aku pernah mengalaminya, kawan.

Tapi itu dulu. Email balasan dari Pak Anies Baswedan telah kembali mengangkat semangatku. Beliau berkata: “Walaupun tak lolos seleksi, tetaplah mencintai apa yang menjadi pilihan dan jalanmu. Tetaplah bergerak. Tetaplah menjadi inspirasi dalam dunia pendidikan dan anak-anak. Ayo bantu wujudkan salah satu janji kemerdekaan kita : Mencerdaskan kehidupan bangsa!” Begitu kira-kira kesimpulannya. Dan ‘dendam’ yang kusebutkan diatas adalah bukan dendam dalam pengertian biasa. Melainkan sebuah dendam positif (memangnya ada dendam positif ya? hehe) yang menjadi cambuk semangatku untuk menerjunkankan diri kedalam telaga nirwananya dunia anak dan pendidikan.

Maka singkat cerita, aku nekad merantau ke pulau Jawa setahun lalu. Tak lain tak bukan, hanyalah untuk menjadi guru sekolah dasar. Kesempatan seleksi bekerja di beberapa instansi yang menggiurkan kuabaikan. Aku tetap penasaran ingin menjadi guru. Lantas kenapa tak menjadi guru di kampungku saja? Aku berpikiran lain kala itu, yaitu aku tak boleh setengah-setengah. Aku harus merantau. Mencari ilmu, sahabat, dan pengalaman baru terlebih dahulu. Ini modal utamaku sebelum suatu hari nanti pulang membangun kampung halaman. Lagipula sebagai orang minang dengan tradisi merantau sepertinya akan terlihat keren dan selaras dengan petuah Imam Syafii. Hehe.. 

Impianku menjadi Pengajar Muda mungkin sirna, tapi puluhan impian lainnya yang senada akan kujemput segera. Alhamdulillah, adikku kini menjadi Pengajar Muda di kepulauan Bawean. Lewatnya, aku kenal dengan banyak Pengajar Muda. Cerita-cerita dan diskusi kami menjadi salah satu senjataku untuk belajar menginspirasi para muridku di sekolah tempat aku mengajar kini.

Berikut cerita ajaibku yang baru kemarin aku alami:

Adalah sebuah acara yang bernama Festival Gerakan Indonesia Mengajar. Diadakan di Ancol. Ini bukan festival biasa. Lebih dari 9000an relawan ikut aktif terlibat di dalamnya. Para relawan akan bekerja bakti untuk menyiapkan materi dan alat bantu ajar yang nantinya akan di kirim keseluruh pelosok Indonesia dimana para Pengajar Muda ditempatkan. Disana para relawan akan membantu mengemas ratusan ribu buku untuk dipaketkan, menulis surat semangat untuk para siswa dan guru di pelosok tanah air, membuat kartu bergambar, membuat puzzle, bernyanyi bersama dan merekam lagu anak-anak, merekam video tentang aneka macam profesi, hingga berdongeng di depan kamera.

Maka tanpa berpikir dua kali, lebih sebulan lalu begitu aku pertama kali mendengar kabar tentang festival karya bakti ini, aku segera mengontak teman-teman ku yang berada di sekitar Depok dan Jakarta. Mereka sangat antusias. Kami yang awalnya hanya tiga sampai lima orang saja, akhirnya berhasil berkenalan dengan belasan teman baru lainnya.

Satu hal yang paling ajaib menurutku adalah, walaupun kami baru kenal, namun kami langsung menjadi akrab dan bersahabat. Tak ada itu yang namanya jaim-jaiman. Para sahabat terkasih yang sudah lama kukenal seperti kak Ega, Ani, Betrin, Stella, dan Vivi menyambut berita ini dengan animo yang luar biasa pula. Dan tugas mengumpulkan karcis pendaftaran kudelegasikan kepada Ani. Tanggungjawab ini pun dia terima dengan hasil yang sangat memuaskan.

Inti acara festival kerja bakti ini sebenarnya sudah dituliskan pula oleh sahabat kami Rima dan Yani dengan menarik dan gaya cerita luar biasa. Kami memang berjanji untuk menuliskan pengalaman luar biasa ini ke dalam note facebook masing-masing kami. Maka pada kesempatan kali ini, aku ambil bagian saja dalam penceritaan tentang peristiwa ajaib yang dialami masing-masing kami. Khususnya kisah tentang sahabat yang baru kami kenal sebelum hari ‘H’ ketika kami menjadi relawan kerja bakti. 

Kenalkan, para sahabatku:

Yani Jayani
Adalah sahabat baru kami, mahasiswi keperawatan asal Bogor. Ia aktif di kampusnya dan suka melakukan aksi bakti sosial untuk anak-anak jalanan. Setiap minggu ia berjualan pakaian layak pakai yang kemudian dananya digunakan untuk kegiatan sosial. Usianya hampir sepuluh tahun dibawahku. Tapi semangatnya membuatku iri setengah mati. Ketika kami janjian bertemu di stasiun pondok cina, aku menunggunya hampir satu jam. Tapi tak terasa. Rasa antusiasku mengalahkan putaran jarum jam yang biasanya membosankan. 

Rima dan Noni
Mereka berdua dari Bogor. Rima adalah juniorku dulu di kampus, tapi kami tak begitu kenal akrab karena jarak angkatan kami terpaut 4 tahun. Dia kini sedang menyusun thesis S2 nya di salah satu kampus di Bogor, juga seorang penulis. Sudah terbit satu buku karyanya (aku kapan ya? harus menyusul segera nih). Noni adalah seorang analis kimia. Orangnya sedikit pendiam diawal, eh setelah kenal seharian ternyata orangnya asik juga. Mereka berdua adalah ‘orang-orang penting’ yang harus kami tunggu di stasiun pondok cina sebelum kami semua bergerak menuju Ancol.

Ani dan Uwie
Ani sudah lama kukenal, junior angkatanku di kampus dulu. Takdir mempertemukan kami di kota ini, sehingga aku punya tandem diskusi yang ideal terkait hobi dan pemikiran-pemikiran kami soal dunia pendidikan. Nah, Ani ini punya sahabat satu kosan yang hebat bernama Uwie. Aku baru sekali bertemu Uwie. Ia adalah seorang psikolog muda, usianya sama denganku. Seperti seorang psikolog pada umumnya, Uwie adalah sosok yang ramah. Walaupun awalnya ia juga pendiam, namun menurutku itu adalah caranya untuk ‘membaca’ kami yang baru pertama kali dikenalnya. Aku senang sekali bisa berkenalan dengan satu orang lagi psikolog. Kelak ia akan sering kutodong pertanyaan dan curhatan tentang anak didikku di sekolah.

Didi
Sahabat yang satu ini namanya mirip sekali dengan salah satu merk shampo anak-anak. Karena namanya yang berkaitan dengan anak-anak inilah, aku langsung tertarik. Haha.. Ternyata ia adalah mahasiswi tahun akhir sebuah universitas negri di Jakarta, jurusan tata rias. Cewek tomboy yang keren satu ini juga punya warung lesehan di dekat gang Kober. Kami tahunya belakangan, ketika sudah pulang dari Ancol. Aku senang mengenalnya karena kalau wisuda atau nikahan nanti aku bisa mengontaknya untuk tata rias dan minta potongan harga. Terlebih karena Didi juga punya warung makan lesehan, kalau lapar dan nanggung bulan, aku kan bisa ngutang disana. Hahaha..

Kak Ega, Betrin, dan Stella
Kak Ega adalah seniorku di kampus dulu. Ia sekarang ngambil S2 di UI. Beliau ini selain juga pernah menjadi guru SD, juga pintar sekali menari Minang lho. Oiya, satu hal yang aku salut dari kak Ega adalah semangat belajarnya. Di kereta, di angkot, di Bus, bahkan ketika berjalan kaki selama diperjalanan hari Minggu lalu, ia tak pernah lepas dari lembaran fotokopian tugas kuliahnya. Kemampuan multi tasking nya patut diacungi jempol.
Betrin dan Stella adalah juniorku di kampus dulu. Kini Betrin bekerja pada sebuah bank di Jakarta. Yang aku salutkan juga adalah ia juga sangat memerhati dunia pendidikan. Ia pernah ikut menginisiasi sebuak komunitas relawan peduli anak jalanan. Kecintaannya pada dunia pendidikan juga tak kalah menakjubkan. Begitu juga dengan Stella, gadis muda yang juga sedang S2 di UI inipun punya komunitas aksi sosial untuk anak-anak yatim, sekolah-sekolah, dan tempat-tempat lainnya di sekitaran Jawa Barat bersama rekan-rekan alumni SMA nya.

Desfi dan Icha
Desfi adalah anggota termuda dalam ‘tim relawan dadakan’ kami. Ia baru kuliah semester pertama. Usianya jauuuuh sekali di bawahku. Yang aku senangi adalah ia tetap memanggilku ‘kakak’. Padahal sangat mungkin sekali kalau ia memanggilku dengan sebutan Paman atau Mbah. Hahaha..Oiya, Desfi ini ternyata kuliah PGSD lho. Sebuah kuliah yang sempat aku idam-idamkan karena dari dulu aku salut sekali dengan sosok seorang guru SD. Dan Icha adalah sepupunya Ani. Ia seorang mahasiswi tahun akhir yang punya jiwa entrepeneur. Aku belum tahu banyak tentangnya. Tapi yang kutahu dari Ani, Icha ini juga punya cita-cita yang sama yakni ingin mengelola sebuah sekolah nantinya. Ini luar biasa. Satu persatu seiring berjalannya waktu, aku menemukan sahabat-sahabat yang memiliki impian sama.

*****

Begitulah, kawan-kawan. Seharian minggu kemaren aku bertemu dengan orang-orang hebat dan menginspirasiku. Mereka adalah sahabat dan saudari-saudari baruku. Aku sebenarnya ingin sekali menceritakan dengan detail tentang semua kegiatan dan keseruan yang kami alami ketika ikutan kerja bakti di Festival Gerakan Indonesia Mengajar. Namun kali ini tak ada kata-kata yang bisa kupilih selain mengucapkan syukur dari hati terdalam karena telah ‘menemukan’ mereka semua.

Satu hal yang kucatat adalah:
“Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia kecil saja dibandingkan jutaan orang-orang yang telah mengabdi kepada bangsa kita tercinta ini, khususnya dalam bidang pendidikan dan anak-anak. Aku seperti sebutir pasir di lautan. Apa yang aku lakukan selama ini, dan selama ikut membantu menjadi relawan sehari di kerja bakti itu, mungkin hanya hal remeh saja bagi sebagian orang. Kuakui itupun memang belum seujung kuku. Namun aku yakin dan sangat percaya, bahwa sebutiran pasir akan membentuk sebuah pantai yang indah tak terperi ketika jutaan butiran pasir lainnya ikut bergabung, bergandengan, berkumpulan bersama-sama.”

Dari pengalaman sehari itu. Aku kembali merefresh janjiku kepada diri sendiri untuk selalu mengabdi dalam dunia pendidikan dan anak-anak. Karena lewat tangan anak-anak kita nantilah kemudi kapal bangsa kita ke depan. Kita tak hanya mencintai anak-anak karena mereka semua itu lucu, kita juga mencintai mereka karena masa depan bangsa kita tercinta ini terletak di tangan mereka.

Kita punya dua tangan kecil, namun ketika jutaan tangan-tangan kecil lainnya bersatu, apa yang tak bisa kita lakukan bersama untuk kebaikan? Dengan hobi, passion dan kesukaanku, aku akan terus belajar dan berusaha mengabdi kepada bangsa ini. Semoga Allah selalu memberikan jalan dan petunjuk serta rahmatNya berupa pengalaman berharga seperti kegiatan kami tempo hari. Aamiin..




Fauzan Fadri
8 Oktober 2013
Pukul 19:40 WIB